Pro dan kontra ujian nasional
memang masih menjadi primadona perdebatan dunia pendidikan. Apalagi akhir-akhir
ini terjadi carut marut dalam pelaksanaan ujian nasional tingkat sekolah
menegah atas. Masalah-masalah tersebut berkenaan dengan pendistribusia soal,
kualitas kertas ujianm, dan mengenai soal ujian. Sesunggunya, dalam setiap
kebijakan yang diturunkan oleh pemerintah adalah telah melewati
pertimbangan-pertimbangan yang serius. Namun, realitanya dalam pelaksanaannya
masih banyak rintangan-rintangan yang membawa dampak kurang baik dalam kemajuan
sistem pendidikan. Berbagai evaluasi yang seobjektif mungkin haus terus
diadakan dalam kaitannya dengan pelaksanaan ujian nasional. Pertimbangan-pertimbangan
baik dari sisi positif dan negatif harus benar-benar dianalisis secara
mendalam. Sehingga, akan berdampak baik pada sistem pendidikan, khusunya pada
jenjang pendidikan formal di Indonesia. Ujian nasional yang sejatinya bertujuan
untuk meningkatkan kualitas pendidikan, namun yang mencuat di muka publik
selama ini hanyalah berbagai seluk beluk permasalahannya saja. Misalnya tentang
contek-mennyontek, kecurangan dalam penyelenggaraan, atau masalah administratif
lainnya. Hal tersebut membawa dampak buruk bagi kualitas karakter pendidikan,
terutama peserta didik. Padahal, saat ini sedang digembor-gemborkan pendidikan
karakter bagi generasi penerus. Sangat kontradiktif.. di sisi lain, realitanya,
banyak sekolah-sekolah yang hanya mengorientasikan kurikulum sekolahnya pada
persiapan ujian nasional. Sehingga, para siswa terus dan terus dilatih soal-soal
yang hanya bertumpu pada kisi-kisi ujian. Rumus singkat dan instant menjadi
dewa penolong dalam penyelesaiannya. Cara cepat dan mudah akan menghambat
kemampuan berpikir anak, karena anak akan terlatih berpikir sederhana tanpa tau
arah kekompleksan suatu soal.
Sunday, May 5, 2013
Refleksi Elegi MengungkapTempurung Pendidikan
Sistem
pendidikan selalu diupayakan menjadi lebih baik, seperti pada tahun ini dengan
dikeluarkannya kurikulum yang baru, yakni kurikulum 2013. Namun, upaya
pembenahan sistem tidak akan menghasilkan sesuatu sesuai yang diharapkan bila
tidak didukung dengan upaya sadar dari komponen-komponen lainnya agar tercapai
keseimbangan dalam mencapai tujuan. Dukungan dari setiap komponen sistem
pendidikan sangat penting karena sistem akan berhasil mencapai tujuannya bila
ada integrasi antarkomponen yang menyusunnya.
Refleksi Elegi Menggapai Hakikat Senin
Elegi Menggapai Hakikat Senin ini begitu
menakjubkan. Sederhana namun penuh makna. Dari elegi tersebut point utama yang
dapat saya tangkap ialah tentang memandang dan menanggapi suatu hal itu dapat
dilihat dan muncul dari berbagai sudut pandang, berbagai sisi, atau pun berbagai dimensi. Banyak hal yang
sering kita lihat dari satu sisi saja. Misalnya dalam kasus kenaikan harga BBM.
Banyak masyarakat yang hanya melihat di permukaan saja sehingga menanggapinya
melalui analisis satu sisi permnasalahan, yakni sisi negatif – menyengsarakan rakyat.
Namun, sejatinya banyak hal yang pantas untuk dipertimbangkan dalam kenaikan
harga BBm ini. Melihat suatu permasalahan dari berbagai sudut pandang dapat
melatih kita untuk bersikap dewasa dan tidak tergesa-gesa dalam menarik
kesimpulan dalam suatu permasalahan. Selain itu, objektivitas dalam memandang
dan menanggapi suatu persoalan akan tetap terjaga sehingga produk yang
dihasilkan akurat. Elegi ini juga mengajarkan kepada kita semua untuk bersikap
fleksibel, kontekstual, dan mampu menjaga sikap di mana pun kita berada. Kita semestinya
harus mampu menempatkan diri dan sadar akan posisi keberadaannya masing-masing.
Bersikap apa adanya dan sederhana sangat penting dalam menjalankan kehidupan.
Dan point yang terakhir adalah berpikir out
of the box sangat penting dalam menghadapi suatu permasalahan atau dalam
mencari jalan keluar. Berpikiran tidak biasa namun luar biasa adalah kejeniusan
yang hanya dimiliki oleh manusia.
Thursday, May 2, 2013
Refleksi Elegi Meratapi Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK
Seorang guru dan golongan-golongan
intelektual yang bergelar pendidik adalah mereka yang sebenar-benarnya sedang
menginvestasi amalan jariyah untuk kemaslahatan bersama. Hal tersebut dapat
terjadi hanya jika pendidik melaksanakan program pendidikan dengan tulus ikhlas
dan dalam koridor yang benar. Bangsa yang besar dan bermartabat akan mendapat
dukungan kuatnya sektor pendidikan yang ada. Dan hal itu mampu terwujud apabila
setiap komponen yang menyusun sistem pendidikan melaksanakan perannya secara
optimal. Dalam kaitannya dengan pendidik (termasuk guru, dosen), mereka
dituntut untuk menghasilkan suatu karya yang dapat menunjang inovasinyanya
dalam proses pembelajaran. Selai itu, PAK dan administrasi proses harus disusun
secara realistis dan sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Plagiatisme karya
bukan cerminan kaum intelektual, terutama di bidang pendidkan. Apalagi dilakukan
oleh seorang guru atau pendidik lainnya. Plagiatisme dapat digolongkan ke dalam
kasus pencurian. Dan pencurian karya yang merupakan hasil olah pikir sesorang
itu lebih berharga daripada pencurian sebuah benda hasil pembelian. Sungguh ironi
bilamana plagiatisme merajalela dalam dunia pendidikan. Dan jangan sampai suatu
ketika kegiatan tersebut membudaya dalam sistem pendidikan nasional. Karena hal
tersebut akan mematikan produktivitas dan progresifisme pendidikan Indonesia.
Kejujuran dan budaya kerja keras
sejatinya masih perlu ditumbuhkembangkan pada setiap insan pendidikan. Gebrakan
penanaman pendidikan karakter saat ini, akan lebih baik bila tidak hanya
berfokus pada peserta didik saja. Namun, objek internalisasi pendidikan
karakter juga penting bila dilaksanakan pada komponen pendidikan lainnya,
seperti halnya guru, dosen, pakar dan politisi pendidikan, para staff ahli
pendidikan, dan lain sebagainya. Melalui internalisasi pendidikan karakter
dalam sistem pendidikan nasional akan medukung upaya pencerdasan kehidupan
bangsa yang berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945.
Refleksi Elegi Ritual Ikhlas 7: Tanya jawab pertama perihal Hati yang Ikhlas
Keikhlasan merupakan salah satu bukti keimanan
manusia sebgai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, ketika di
dalam niatan ikhlas itu masih terselip riya maka riya dapat dimasukkan ke dalam
golongan dosa syirik. Rasulullah bersabda
“Yang paling aku takutkan dari apa yang aku takutkan atas kamu ialah syirik
ashghor, ditanya oleh para sahabat, apa maksudnya ya Rasulullah ? Beliau
bersabda: riya’” (Al Hadits). Riya itu tidak dapat ditangkap oleh indera kita. Oleh
karena itu, sikap ini bagaikan semut hitam kecil yang berjalan di tengah
kegelapan. Bila menggigit orang yang sedang melewatinya, maka orang itu akan
kesakitan namun tetap tidak dapat melihat si semut. Itulah bahaya riya. Tidak dapat
dilihat namun dapat dirasakan dampaknya. Bahkan, dengan adanya sikap riya,
orang lain dapat terluka hatinya oleh perbuatan kita tersebut. Melakukan
perbuatan riya terkadang tidak pernah kita sadari. Sehingga, banyak-banyak
melakukan istighfar dan senantiasa memperbaharui niat setiap ibadah kita hanya
untuk mencapai ridha Allah Ta’ala adalah baik adanya. Ibadah baik dalam bentuk
magdhah dan ghairu magdhah dapat menyebabkan penyakit hati riya. Misalnya,
pamer, prestis, ingin dipuji, cari perhan, dan lain sebagainya. Oleh karena
itu, sebaik-baiknya ibadah adalah senantiasa disempurnakan rukunnya meskipun
ada atau tidak adanya orang yang melihat ibadah kita.
Refleksi Elegi Ritual Ikhlas 6: Cantraka Sakti Berkonsultasi kepada Muhammad Nurikhlas.
Segala sesuatu yang didapatkan oleh
manusia adalah sesuai dengan kapasitas usahanya masing-masing. Namun, terkadang
ada hasil usaha yang tidak barakah bila dilihat dari sisi ketauhidannya. Hal tersebut
disebabkan oleh berbagai hal, bisa jadi karena salah niat atau salah langkah.
Pencapaian hasil yang benar ialah ketika dilmulai dengan niat yang benar, yakni
dikarenakan untuk mencari ridha Allah SWT. Kemudian dilakukan dengan jalan yang
benar, tidak melenceng dari nilai dan norma yang berlaku, termasuk norma agama.
Dalam hal ini, maka seberapa besar usaha kita akan berdampak pada pencapaian
hasil yang akan kita dapatkan. Setelah ikhtiar dilaksanakan maka manusia hanya
mampu berdoa agar mendapatkan hasil sesuai apa yang diinginkan. Inilah yang
disebut dengan tawakal. Menyerahkan segala apa yang telah diusahakannya kepada
Tuhan YME.
Di samping itu, dalam melakukan suatu
usaha atau melaksanakan suatu kewajiban, maka selain bermodal niat, kita juga
harus menumbuhkan komitmen yang tinggi. Sehingga, tujuan dapat tercapai
meskipun banyak halangan yang merintangi kita dalam menunaikan suatu kewajiban
tersebut. Berlindung kepada Tuhan dan mengharapkan keridaanNya harus senantiasa
kita implementasikan dalam setiap langkah kehidupan kita masing-masing.
Tuesday, April 30, 2013
Refleksi Elegi News Update: Koalisi Pendidikan Menolak Kurikulum 2013
Suatu kebijakan yang menyangkut kemaslahatan masyarakat
umum pasti mendapat tanggapan yang bermacam-macam, baik yang bersikap pro
maupun kontra. Semua itu merupakan hal yang wajar dan seharusnya terjadi. Wajar,
karena negara Indonesia merupakan negara yang menganut sistem demokrasi. Sehingga,
setiap pihak bebas mengeluarkan pendapat namun tetap wajib
mempertanggungjawabkan pendapatnya masing-masing. Seharusnya terjadi,
dikarenakan untuk mendapatkan suatu kesimpulan akhir pada suatu kebijakan maka
diperlukan masukan-masukan dan kritik yang membangun dalam tujuannya untuk
menyempurnakan kebijakan agar nilai kebermanfaatannya lebih tepat sasaran dan
efisien.
Dalam kaitannya dengan dikeluarkan kebijakan baru di
bidang pendidikan, yakni kurikulum 2013, menurut saya segala persiapan kurang
dilaksanakan secara optimal. Sosialisasi belum menjangkau seluruh komponen
penggerak pendidikan seluruhnya. Selain itu, dalam pergantian kurikulum, peningkatan
kinerja pihak terkait belum efektif, (khususnya guru SD yang kurikulum
pembelajarannya begitu berbeda dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya). Namun,
saya percaya bahwa muatan kurikulum 2013 ini hakikatnya adalah menuju kepada
kebaikan. Oleh karena itu, dukungan, kritk, dan saran masih sangat dibutuhkan
dari berbagai pihak.
Subscribe to:
Posts (Atom)


