Indonesia adalah negeri beribu
pulau. Indonesia sesungguhnya adalah kebanggan bagi dunia, karena di sini
banyak hal tersedia. Berbagai sumber daya alam, sumber mineral, sumber
penghasilan, keanekaragaman hayati, keanekaragaman budaya sungguh patut
dibanggakan oleh seluruh warganya. Bahkan, negara sekut Amerika, setangguh
Jepang dan Cina tak memiliki kekayaan yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia. Mereka
tidak miliki Borneo, tidak pula blok cepu, tidak punya tanah papua, tak punya
Andalas, tak memiliki hutan hujan tropis yang begitu luas dan begitu besarnya. Mereka
tidak terbentang dari kota Sabang hingga Merauke, tidak terletak dari Pulau We
hingga Pulau Rote. Semua ini, adalah Indonesia – Negara Kesatuan republik
Indoneisa. Siapa yang tidak bangga pada negeri kebanggaan ini?? Yang bahkan
label zamrud katulistiwa pun tertera di nama besarnya. Yang bahkan, paru-paru
dunia pun ada di dalamnya. Siapa yang tidak bangga mengakui bahwa aku
Indonesia, bangsa Indonesia?? Hanya orang yang tak pernah bersyukur saja yang
melakukannya. Bila bukan kita yang mengagung-agungkan bangsa ini, bila bukan
kita yang mengibarkan sang saka merah putih di luar sana, siapa lagi??? Apa yang
mempermalukan bangsa ini adalah siapa yang membuat malu, bukan dari budaya
bangsa, bukan dari leluhur bangsa Indonesia. Berbagai permasalahan yang
mencoret muka negeri, sesungguhnya dapat dengan mudah dihapus dan ditutup
dengan berbagai kebanggaan yang dimilikinya. Sumber daya manusia yang tersedia
merupakan salah satu amunisi terbaik bila digunakan untuk modal kebaikan dan
dikembangkan dengan kebaikan pula. Dilengkapi dengan berbagai fasilitas alam
dan budaya yang beraneka ragam, akan membuat kita terbang setinggi burung
garuda. Akan membuat nama bangsa ini
membesar sebesar bentangan pulau di Indonesia. Sungguh kebanggan untuk seluruh
tumpah darah negeri bila rasa bangga dan nasionalisme itu senantiasa
dimunculkan dalam setiap jiwa putra bangsa. Tiada kata malu untuk mengaku bahwa
Kami Indonesia. Sama sekali tidak ada. Karena menjadi Indonesia adalah
kebanggaan yang terkira harganya
Sunday, May 5, 2013
REFLEKSI Elegi Ritual dan Serba-serbi Unas
Pro dan kontra ujian nasional
memang masih menjadi primadona perdebatan dunia pendidikan. Apalagi akhir-akhir
ini terjadi carut marut dalam pelaksanaan ujian nasional tingkat sekolah
menegah atas. Masalah-masalah tersebut berkenaan dengan pendistribusia soal,
kualitas kertas ujianm, dan mengenai soal ujian. Sesunggunya, dalam setiap
kebijakan yang diturunkan oleh pemerintah adalah telah melewati
pertimbangan-pertimbangan yang serius. Namun, realitanya dalam pelaksanaannya
masih banyak rintangan-rintangan yang membawa dampak kurang baik dalam kemajuan
sistem pendidikan. Berbagai evaluasi yang seobjektif mungkin haus terus
diadakan dalam kaitannya dengan pelaksanaan ujian nasional. Pertimbangan-pertimbangan
baik dari sisi positif dan negatif harus benar-benar dianalisis secara
mendalam. Sehingga, akan berdampak baik pada sistem pendidikan, khusunya pada
jenjang pendidikan formal di Indonesia. Ujian nasional yang sejatinya bertujuan
untuk meningkatkan kualitas pendidikan, namun yang mencuat di muka publik
selama ini hanyalah berbagai seluk beluk permasalahannya saja. Misalnya tentang
contek-mennyontek, kecurangan dalam penyelenggaraan, atau masalah administratif
lainnya. Hal tersebut membawa dampak buruk bagi kualitas karakter pendidikan,
terutama peserta didik. Padahal, saat ini sedang digembor-gemborkan pendidikan
karakter bagi generasi penerus. Sangat kontradiktif.. di sisi lain, realitanya,
banyak sekolah-sekolah yang hanya mengorientasikan kurikulum sekolahnya pada
persiapan ujian nasional. Sehingga, para siswa terus dan terus dilatih soal-soal
yang hanya bertumpu pada kisi-kisi ujian. Rumus singkat dan instant menjadi
dewa penolong dalam penyelesaiannya. Cara cepat dan mudah akan menghambat
kemampuan berpikir anak, karena anak akan terlatih berpikir sederhana tanpa tau
arah kekompleksan suatu soal.
Refleksi Elegi MengungkapTempurung Pendidikan
Sistem
pendidikan selalu diupayakan menjadi lebih baik, seperti pada tahun ini dengan
dikeluarkannya kurikulum yang baru, yakni kurikulum 2013. Namun, upaya
pembenahan sistem tidak akan menghasilkan sesuatu sesuai yang diharapkan bila
tidak didukung dengan upaya sadar dari komponen-komponen lainnya agar tercapai
keseimbangan dalam mencapai tujuan. Dukungan dari setiap komponen sistem
pendidikan sangat penting karena sistem akan berhasil mencapai tujuannya bila
ada integrasi antarkomponen yang menyusunnya.
Refleksi Elegi Menggapai Hakikat Senin
Elegi Menggapai Hakikat Senin ini begitu
menakjubkan. Sederhana namun penuh makna. Dari elegi tersebut point utama yang
dapat saya tangkap ialah tentang memandang dan menanggapi suatu hal itu dapat
dilihat dan muncul dari berbagai sudut pandang, berbagai sisi, atau pun berbagai dimensi. Banyak hal yang
sering kita lihat dari satu sisi saja. Misalnya dalam kasus kenaikan harga BBM.
Banyak masyarakat yang hanya melihat di permukaan saja sehingga menanggapinya
melalui analisis satu sisi permnasalahan, yakni sisi negatif – menyengsarakan rakyat.
Namun, sejatinya banyak hal yang pantas untuk dipertimbangkan dalam kenaikan
harga BBm ini. Melihat suatu permasalahan dari berbagai sudut pandang dapat
melatih kita untuk bersikap dewasa dan tidak tergesa-gesa dalam menarik
kesimpulan dalam suatu permasalahan. Selain itu, objektivitas dalam memandang
dan menanggapi suatu persoalan akan tetap terjaga sehingga produk yang
dihasilkan akurat. Elegi ini juga mengajarkan kepada kita semua untuk bersikap
fleksibel, kontekstual, dan mampu menjaga sikap di mana pun kita berada. Kita semestinya
harus mampu menempatkan diri dan sadar akan posisi keberadaannya masing-masing.
Bersikap apa adanya dan sederhana sangat penting dalam menjalankan kehidupan.
Dan point yang terakhir adalah berpikir out
of the box sangat penting dalam menghadapi suatu permasalahan atau dalam
mencari jalan keluar. Berpikiran tidak biasa namun luar biasa adalah kejeniusan
yang hanya dimiliki oleh manusia.
Thursday, May 2, 2013
Refleksi Elegi Meratapi Sang Ilmuwan Plagiat dan Guru Pemalsu PAK
Seorang guru dan golongan-golongan
intelektual yang bergelar pendidik adalah mereka yang sebenar-benarnya sedang
menginvestasi amalan jariyah untuk kemaslahatan bersama. Hal tersebut dapat
terjadi hanya jika pendidik melaksanakan program pendidikan dengan tulus ikhlas
dan dalam koridor yang benar. Bangsa yang besar dan bermartabat akan mendapat
dukungan kuatnya sektor pendidikan yang ada. Dan hal itu mampu terwujud apabila
setiap komponen yang menyusun sistem pendidikan melaksanakan perannya secara
optimal. Dalam kaitannya dengan pendidik (termasuk guru, dosen), mereka
dituntut untuk menghasilkan suatu karya yang dapat menunjang inovasinyanya
dalam proses pembelajaran. Selai itu, PAK dan administrasi proses harus disusun
secara realistis dan sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Plagiatisme karya
bukan cerminan kaum intelektual, terutama di bidang pendidkan. Apalagi dilakukan
oleh seorang guru atau pendidik lainnya. Plagiatisme dapat digolongkan ke dalam
kasus pencurian. Dan pencurian karya yang merupakan hasil olah pikir sesorang
itu lebih berharga daripada pencurian sebuah benda hasil pembelian. Sungguh ironi
bilamana plagiatisme merajalela dalam dunia pendidikan. Dan jangan sampai suatu
ketika kegiatan tersebut membudaya dalam sistem pendidikan nasional. Karena hal
tersebut akan mematikan produktivitas dan progresifisme pendidikan Indonesia.
Kejujuran dan budaya kerja keras
sejatinya masih perlu ditumbuhkembangkan pada setiap insan pendidikan. Gebrakan
penanaman pendidikan karakter saat ini, akan lebih baik bila tidak hanya
berfokus pada peserta didik saja. Namun, objek internalisasi pendidikan
karakter juga penting bila dilaksanakan pada komponen pendidikan lainnya,
seperti halnya guru, dosen, pakar dan politisi pendidikan, para staff ahli
pendidikan, dan lain sebagainya. Melalui internalisasi pendidikan karakter
dalam sistem pendidikan nasional akan medukung upaya pencerdasan kehidupan
bangsa yang berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945.
Refleksi Elegi Ritual Ikhlas 7: Tanya jawab pertama perihal Hati yang Ikhlas
Keikhlasan merupakan salah satu bukti keimanan
manusia sebgai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, ketika di
dalam niatan ikhlas itu masih terselip riya maka riya dapat dimasukkan ke dalam
golongan dosa syirik. Rasulullah bersabda
“Yang paling aku takutkan dari apa yang aku takutkan atas kamu ialah syirik
ashghor, ditanya oleh para sahabat, apa maksudnya ya Rasulullah ? Beliau
bersabda: riya’” (Al Hadits). Riya itu tidak dapat ditangkap oleh indera kita. Oleh
karena itu, sikap ini bagaikan semut hitam kecil yang berjalan di tengah
kegelapan. Bila menggigit orang yang sedang melewatinya, maka orang itu akan
kesakitan namun tetap tidak dapat melihat si semut. Itulah bahaya riya. Tidak dapat
dilihat namun dapat dirasakan dampaknya. Bahkan, dengan adanya sikap riya,
orang lain dapat terluka hatinya oleh perbuatan kita tersebut. Melakukan
perbuatan riya terkadang tidak pernah kita sadari. Sehingga, banyak-banyak
melakukan istighfar dan senantiasa memperbaharui niat setiap ibadah kita hanya
untuk mencapai ridha Allah Ta’ala adalah baik adanya. Ibadah baik dalam bentuk
magdhah dan ghairu magdhah dapat menyebabkan penyakit hati riya. Misalnya,
pamer, prestis, ingin dipuji, cari perhan, dan lain sebagainya. Oleh karena
itu, sebaik-baiknya ibadah adalah senantiasa disempurnakan rukunnya meskipun
ada atau tidak adanya orang yang melihat ibadah kita.
Refleksi Elegi Ritual Ikhlas 6: Cantraka Sakti Berkonsultasi kepada Muhammad Nurikhlas.
Segala sesuatu yang didapatkan oleh
manusia adalah sesuai dengan kapasitas usahanya masing-masing. Namun, terkadang
ada hasil usaha yang tidak barakah bila dilihat dari sisi ketauhidannya. Hal tersebut
disebabkan oleh berbagai hal, bisa jadi karena salah niat atau salah langkah.
Pencapaian hasil yang benar ialah ketika dilmulai dengan niat yang benar, yakni
dikarenakan untuk mencari ridha Allah SWT. Kemudian dilakukan dengan jalan yang
benar, tidak melenceng dari nilai dan norma yang berlaku, termasuk norma agama.
Dalam hal ini, maka seberapa besar usaha kita akan berdampak pada pencapaian
hasil yang akan kita dapatkan. Setelah ikhtiar dilaksanakan maka manusia hanya
mampu berdoa agar mendapatkan hasil sesuai apa yang diinginkan. Inilah yang
disebut dengan tawakal. Menyerahkan segala apa yang telah diusahakannya kepada
Tuhan YME.
Di samping itu, dalam melakukan suatu
usaha atau melaksanakan suatu kewajiban, maka selain bermodal niat, kita juga
harus menumbuhkan komitmen yang tinggi. Sehingga, tujuan dapat tercapai
meskipun banyak halangan yang merintangi kita dalam menunaikan suatu kewajiban
tersebut. Berlindung kepada Tuhan dan mengharapkan keridaanNya harus senantiasa
kita implementasikan dalam setiap langkah kehidupan kita masing-masing.
Subscribe to:
Posts (Atom)


